Minggu, 05 Desember 2010

MORFOLOGI KAPANG, KHAMIR, BAKTERI DAN PENGECATAN BAKTERI


I.                   TUJUAN
Kapang, khamir, dan bakteri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Khamir, kapang dan bakteri masing-masing ada yang menguntungkan dan merugikan manusia. Dalam praktikum kali ini akan mempelajari morfologi kapang dan khamir antara sel hidup dan mati secara mikroskopis. Dan mempelajari morfologi dan  pengecatan bakteri. Dari hal itu, akan diketahui sifat-sifat dari kamir, kapang, dan bakteri.

II.                PENDAHULUAN
Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium. Miselium merupakan kumpulan dari hifa. Pada beberapa kapang, hifanya tidak mempunyai dinding pembatas dan disebut nonseptate hifa. Untuk hifa yang memiliki dinding pembatas disebut septate hifa. Hifa ada yang berfungsi untuk mengabsorbsi nutrisi(hifa vegetative)dan ada hifa yang berfungsi untuk reproduksi(Hifa fertil)(Waluyo, 2007:262-263).
Kapang berreproduksi dengan 2 cara, secara aseksual dan seksual. Secara aseksual misalnya sporangiospora, dan konidiaspora. Phycomycetes merupakan kelas yang perkembangbiakan aseksualnya menggunakan sporangiospora. Sporangiospora merupakan spora yang diproduksi dalam suatu kantung yang disebut sporangium. Salah satu spesies yang reproduksi aseksualnya menggunakan sporangiospora adalah Rhizopus sp. Penicillium sp. merupakan contoh spesies yang reproduksi aseksualnya menggunakan konidiospora. Konidiospora adalah spora yang diproduksi pada ujung hifa yang bercabang-cabang dan terbentuk dari hifa fertile. Secara seksual kapang berrkembang biak dengan isogamet dan heterogamet(Prescott, 1999:528-529,531,534).
Khamir merupakan fungi uniselular tanpa miselium, hanya merupakan sel tunggal. Beberapa khamir berbentuk spheroidal, elip, berbentuk lemon, atau silinder. Reproduksi aseksualnya dengan bertunas atau berfusi. Beberapa khamir tidak memproduksi spora sehingga disebut asporogenous, dan digolongkan kedalam fungi imperfekti. Ada pula khamir yang memproduksi spora, khamir ini disebut sporogenousdan digolongkan kedalam kelas Ascomycetes dan Basidiomycetes(Sarles, et.al., 1956:45-46)
Bakteri termasuk kedalam organism prokariotik, karena tidak memiliki membrane inti. Bakteri berkmbang biak dengan membelah diri. Ukuran bakteri sangat kecil. Bakteri memiliki 3 bentuk umum yaitu basil, kokus, dan spiril. Bakteri basil adalah bakteri yang bentuknya memanjang seperti batang. Bakteri kokus adalah bakteri yang bentuknya seperti bola kecil. Sedangkan bakteri yang berbentuk spiril adalah bakteri yang bentuknya berbengkok-bengkok seperti spiral(Salle, 1961).
Untuk mengetehaui morfologi bakteri secara jelas dalam mikroskop maka diperlukan pengecatan. Selain itu pengecatan juga berfungsi untuk menentukan sifat bakteri.
Ada berbagai macam jenis pengecatan yaitu pengcatan sederhana yang hanya menggunakan 1 cat saja, pengecatan bertingkat yaitu pengecatan dengan lebih dari satu jenis cat. Pengecatan bertingkat misalnya pengecatan gram, dan pengecatan bakteri tahan asam atau Ziehl Nellsen. Pengecatan gram terdiri dari 4 tahap, tahap pertama adalah pengecatan dengan cat utama yaitu Kristal violet, lalu cat diintensifkan menggunakan larutan iod, tahap ketiga menggunkana alcohol untuk melunturkan cat pertama, tahap yang terakhir adalah pengecatan dengan cat penutup yaitu safranin. Gram positif menunjukan warna ungu, gram negative menunjukan warna merah dari safranin. Untuk pengecatan Ziehl Nellsen cat pertama menggunakan carbolfuchsin, lalu dilunturkan dengan alcohol asam, setelah itu ditutup dengan cat penutup methylen blue. Untuk yang tahan asam warnanya biru. Dengan pengecatan gram kita bisa menentukan sifat bakteri apakah parasit atau tidak. Sedangkan dengan cat ZN kita dapat tahu sifat bakteri apakah tahan asam atau tidak(Salle, 1961).

III.             METODE
A.    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan adalah khamir(Saccharomyces cereviceae), Kapang(Penicilium sp., Rhizopus sp.), bakteri(Escheria coli dan Bacillus subtilis). Gelas benda sebagai tempat preparat. Gelas penutup untuk menutup preparat dalam gelas benda. Mikroskop sebagai alat bantu pengamatan mikroskopis. Cat seperti methylen blue, Kristal violet,safranin, dan carbolfuchsin. Lampu spiritus untuk mensterilkan daerah sekitarnya. Ose untuk mengambil koloni mikrobia. Larutan alcohol 70%, gram A, gram B, gram C, Gram D, ZN A, ZN B, ZN C, aquades steril.
B.     Cara Kerja
1.      Morfologi Kapang
Preparat Gelas benda dibersihkan dengan alkohol lalu di panaskan dengan lampu spiritus. Setelah dingin, larutan laktofenol 1-2 tetes dibagian tengah permukaan atas gelas benda tersebut. Diambil biakan miselium biakan murni jamur benang yang terlah disediakan dengan jarum enten dan diletakkan diatas gelas benda yang telah diberi larutan laktofenol. Miselium jamur benang diratakan dengan 2 buah jarum preparat, agar miselium kelihatan terpisah satu sama lain. Kemudian ditutup menggunakan gelas penutup dan dijaga agar tidak ada gelembung udara dibawah gelas penutup. Pengamatan dengan mikoskop mula-mula memakai perbesaran perbesaran lemah kemudian perbesaran sedang. kemudian digambar dan diberi keterangan secukupnya.
2.      Morfologi Khamir
Diambil  1 ose untuk masing-masing biakan murni khamir,dan diletakkan pada gelas benda. Pada masing-masing preparat diteteskan 1 tetes cat methylen blue dicampur lalu ditutup dengan gelas penutup. Diamati dengan mikroskop lalu di gambar
3.      Morfologi Bacteri
Gelas benda dibersihkan dengan alkohol lalu di panaskan dengan lampu spiritus. Untuk pengecatan negatif  di ambil satu ose letakkan pada permukaan gelas benda lalu diteteskan setetes cat nigrosin dengan batang gelas dan ratakan. Setelah itu preparat di kering anginkan. Preparat di ambil dan diamati dengan mikroskop. Untuk pengecatan tahan asam bakteri di ambil satu ose letakkan pada permukaan gelas benda lalu ratakan. Selanjutnya difiksasi di atas nyala lampu spiritus 5 kali.,lalu dinginkan.Kemudian dibubuhkan cat ZN A berlebih panaskan dengan lampu spiritus,tetapi jangan sampai kering dan mendidih, Cuci dengan air mengalir lalu keringkan. Cuci dengan larutan ZN B sampai agak pucat, Cuci dengan air mengalir lalu keringkan. Bubuhkan cat penutup ZN C selama 30 detik, Cuci dengan air mengalir lalu keringkan. Preparat di ambil dan diamati dengan mikroskop.

IV.             HASIL
 A. Morfologi Khamir
a.
b.
Perbesaran 10x40
Gambar 1. Morfologi Saccharomyces cereviceae, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet
B. Morfologi Kapang
a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 2. Morfologi Penicilium sp., a. Skematis, b. Foto dari sumber internet
a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 3. Morfologi  Rhizopus sp., a. Skematis, b. Foto dari sumber internet
C. Morfologi dan Pengecatan Bakteri
a.
b.
Perbesaran: 10x40

Gambar 4. Morfologi Bacillus subtilis dengan pengecatan gram, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet
a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 5. Spora Bacillus subtilis dengan pengecatan Schaefer dan Fulton, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet

a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 6. Morfologi Bacillus subtilis dengan pengecatan Ziehl Nellsen, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet

a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 7. Morfologi Escheria coli dengan pengecatan gram, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet

a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 8. Spora Escheria coli dengan pengecatan Schaefer dan Fulton, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet

a.
b.
Perbesaran 10x40

Gambar 2. Morfologi Escheria coli dengan pengecatan Ziehl Nellsen, a. Skematis, b. Foto dari sumber internet
V.                PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini preparat Saccharomyces cereviceae warnanya adalah transparan. Pengecatan yang dilakukan pada preparat ini adalah pengecatan sederhana dengan methylen blue. Semua sel yang ditemukan dalam preparat adalah transparan. Hal ini menunjukan bahwa sel pada preparat ini semuanya masih hidup. Sel jika dalam kondisi hidup membrane selnya bersifat selektif permeable, sehingga tidak semua zat mudah befusi kedalam sel hidup. Tetapi, dengan matinya suatu sel, maka daya selektifitas membrannya akan berkurang bahkan sampai hilang. Hal ini akan membuat semua zat bebas masuk kedalam sel, temasuk cat methylen blue. Jika cat tersebut berhasil berfusi masuk ke dalam sel mati maka warna sel akan berubah jadi biru.
Preparat Penicillium sp. menunjukan adanya konidiospor yang merupakan spora yang dibentuk pada ujung cabang-cabang hifa. Selain itu dalam preparat ini spora banyak ditemukan persebaran, hal ini disebabkan karena spora tersebut tidak terdapat dalam kantung seperti pada sporangiospora. Preparat ini memiliki tiang penyangga konidiospora yang disebut konidiofor.
Untuk spora yang berkantung ditemukan pada preparat Rhizopus sp. spora ini terbentuk pada kantung yang disebut sporangium. Namun setelah itu spora juga dibebaskan ketika kantung tersebut membuka, sehingga dalam preparat ini juga terdapat spora bebas dalam jumlah banyak.
Bacillus subtilis termasuk ke dalam bakteri gram positif. Hal ini dapat dipastikan dengan hasil pengecatan yang ada menunjukan warna biru tua keunguan. Bakteri gram positif berwarna keunguan karena dinding selnya kandungan peptidoglikannya tinggi. Peptidoglikan terdiri dari molekul dengan berat molekul tinggi dan kaya akan gula. Selain itu struktur dari peptidoglican terdiri dari murein dan mukopeptida. Susunan peptidoglycan ini membuat peptidoglican dapat mengikat cat dengan kuat dan tidak mudah luntur(Moat, 1979).
Sedangkan untuk Escheria coli berdasarkan hasilnya termasuk gram negative ditunjukan dengan warna hasil akhir berwarna merah. Bakteri ini pada awalnya berwarna ungu saat dilakukan pengcatan pertama. Tetapi sekalipun telah diintensifkan menggunakan larutan iod setelah ditambahkan alcohol warna tersebut luntur karena warna tersebut hanya diikat oleh lapisan tipis diluar peptidoglican. Gram negative memiliki struktur membrane multilayer yang lebih komplek dibandingkan gram positif. Membrane paling luar bakteri gram negative terdiri dari lipopolisakarida dan lipoprotein kompleks diluar peptidoglican. Lapisan ini mengandung lipid sekitar 20%. Lipid ini mengandung antigen dan endotoksin yang berfungsi sebagai barier terhadap enzim litik. Sehingga memungkinkan organism ini sebagai saprofit atau parasit. LPS atau membrane terluar dinding bakteri gram negative inilah yang mengikat Kristal violet pada pengecatan pertama. Tetapi dinding ini akan ikut luntur ketika ditambahkan alcohol sehingga pada pengecatan kedua, cat kedualah yang warnanya terserap oleh lapisan dibawahnya yaitu peptidoglican(Moat, 1979).
Untuk pengecatan asam kedua bakteri ini termasuk ke dalam bakteri tahan asam. Dapat dilihat dihasil akhirnya, kedua preparat ini menunjukan warna biru. Bakteri yang tahan asam ketika dicat menggunakan carbolfuchsin, carbolfuchsin akan terikat sempurna, sehingga ketika ditambahkan alcohol asam sebagai luntur warna akan tetap sekalipun dicat kembali dengan methylen blue. Sedangkan pada bakteri yang tidak tahan asam dinding selnya mengandung lipid yang akan luruh ketika ditambahkan alcohol.
Untuk pengecatan spora menggunakan teknik pengecatan khusus Schaefer dan Fulton.

VI.             KESIMPULAN
Pada Saccharomyces cereviceae ketika dicat sederhana sel yang hidup akan nampak transparan sedangkan sel yang mati akan berwarna biru. Pada Penicillium sp. mempunyai konidiospora dan pada Rhizopus sp. memiliki sprangiospora untuk reproduksi aseksual. Untuk memperjelas morfologi dan mengetahui sifat bakteri dilakukan pengecatan bertingkat seperti Ziehl Nellsen dan Gram.
VII.          DAFTAR PUSTAKA
Moat, A.G. 1979. Microbial Physiology. John Wiley and Sons, Inc. USA, p: 70-73, 75-76
Prescott, L. M, J. P. Harley, dan D. A. Klein. 1999. Microbiology. 4th Ed. McGraw-Hill Book Company Inc. USA, p: 528-529,531, 534
Salle, A. J. 1961. Fundamental Principles of Bacteriology. 5th ed McGraw-Hill Book. New York, p: 9, 13-15, 25-32, 106, 138, 140-143
Sarles, W.B., W.C. Frazier, J.C Wilson, et.al. 1956. Microbiology General and Applied. 2nd Ed. Harper and Brothers. New York, p: 45-46
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang, p: 262-263

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar