Minggu, 05 Desember 2010

TEKNIK ISOLASI BAKTERI


I.                   TUJUAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari tata cara mengisolasi bakteri, sehingga dapat mendapatkan suatu biakan murni dari suatu bakteri.
II.                PENDAHULUAN
Dalam mempelajari mikrobia tidak bisa dilakukan secara kasat mata. Sedangkan dalam suatu lokasi yang menurut manusia sudah cukup kecil, disana masih terdapat bakteri dalam jumlah besar dan juga bermacam-macam jenisnya. Selain itu, di alam  mikrobia pada umumnya tidak hidup tersendiri sebagai individu tunggal dan terlepas dari spesies yang lain. Mikrobia lebih sering ditemukan dalam bentuk koloni dan bersama-sama dengan mikrobia yang lain(Seiler, 2000). Oleh karena itu, dalam mempelajarinya, bakteri harus diambil dari alam lalu diisolasikan dalam suatu biakan murni. Biakan murni adalah biakan yang hanya berisi 1 jenis bakteri(Pelczar et al.,1988).
Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara pengenceran, cara penuangan, cara penggesekan atau penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan(Waluyo, 2007).
Untuk metode streak plate misalnya, mikrobia diletakkan dalam pada ujung plate menggunakan ose,lalu digoreskan pada permukaan medium agar tersebut dengan pola tertentu yang khas. Ada pula metode pour plate atau penuangan. Metode ini dapat digunakan untuk penghitungan bakteri secara langsung. Karena sebelum dituang bakteri tersebut diencerkan terlebih dahulu. Sehingga syarat penghitungan langsung yaitu dalam 1 media terdapat 30-300 koloni dapat terpenuhi(Prescott et.al.2008).
Metode pengenceran yaitu dengan mengencerkan misalnya 1 ose bakteri dengan air. Lalu hasil pengenceran tersebut diencerkan lagi dengan beberapa ketentuan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsentrasi bakteri(Barazandeh,2008).

III.             METODE
A.    Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Ose.
b.      Inkubator.
c.       Cawan petri steril.
d.      Bunsen.
e.       Korek.
2.      Bahan
a.       Nutrien agar tegak dan nutrien agar miring.
b.      Suspensi bahan yang mengandung bakteri atau campuran biakan bakteri.
B.     Cara Kerja
1.      Cara Goresan (Streak Plate Method)
a.       Cairkan nutrien agar dalam penangas air.
b.      Dinginkan sampai temperatur ± 50°.
c.       Tuangkan medium agar tersebut ke dalam cawan petri steril secara aseptik dan biarkan sampai dingin dan padat.
d.      Ambil 1 ose suspensi bahan  yang mengandung bakteri atau campuran bakteri secara aseptik, kemudian dibuat goresan pada  permukaan agar.
e.       Cawan petri diberi label (etiket) kemudian dibungkus dan dibalik untuk mencegah terjadinya tetesan air pada permukaan agar dari hasil kondensasi uap air.
f.       Sesudah inkubasi akan terlihat kolni pada bekas goresan. Pada permulaan goresan akan terjadi pertumbuhan yang lebat setelah diinkubasikan, sehingga akan sukar diisolasi. Tiao koloni yang terpisah mungkin berasal dari 1 macam sel bakteri.
g.      Salah satu koloni dipilih dari masing-masing tipe koloni yang tumbuh.
h.      Diambil secara aseptis dengan ose satu koloni yang dikehendaki dan suspensikan dalam air steril.
i.        Diperiksa dengan pengecatan Gram.
j.        Dipindahkan masing-masing jenis hasil isolasi ke dalam medium nutrien  agar miring.
k.      Diinkubasikan pada temperatur yang sesuai selama 24-28 jam.
l.        Uji kembali kemurniaanya dengan pengecatan Gram.
m.    Jika tiap tabung hanya terdapat satu macam bakteri berarti isolasi tersebut telah berhasil.

2.      Cara Taburan (Pour Plate Method)
b.      Medium untuk pertumbuhan bakteri (nutrien agar) dicairkan dalam penangas air (100°C), dinginkan sampai temperatur 50°C, kemudian diinokulasikan dengan satu ose suspensi secara aseptis. Digojog supaya tercampur rata.
c.       Dituangkan ke dalam cawan petri steril berlabel secara aseptis.
d.      Cawan-cawan petri tersebut dan selanjutnya diinkubasi pada temperatur kamar.
e.       Setelah 24-48 jam inkubasi, amati bentuk koloni bakteri baikyang tumbuh di permukaan dan di dalam agar, apakah koloni-koloni bakteri terpisah merata atau masih menyatu dengan bakteri lain membentuk spreader.
f.       Diperhatikan koloni yang tumbuh pada media baik yang ada di permukaan, tengah, dan dasar medium. Lalu dicatat semua koloni berdasarkan warna, bentuk, ukuran, dan konsistensi koloni.

3.      Surface Plate Method
a.       Cairkan nutrien agar dalam penangas air.
b.      Dinginkan sampai temperatur ± 50°.
c.       Tuangkan medium agar tersebut ke dalam cawan petri steril secara aseptik dan biarkan sampai dingin dan padat.
d.      Bahan yang mengandung bakteri atau campuran seencer mungkin disuspensikan untuk mendapatkan koloni yang terpisah-pisah sehingga mudah diisolasi.
e.       Tuangkan bakteri yang sudah diencerkan kedalam cawan petri berisi medium agar yang sudah padat secukupnya. Ratakan dengan dry glasky yang sudah disterilkan dengan alkohol dan lampu bunsen.
f.       Cawan petri diberi label (etiket) kemudian dibungkus dan dibalik untuk mencegah terjadinya tetesan air pada permukaan agar dari hasil kondensasi uap air.
g.      Sesudah inkubasi akan terlihat koloni pada permukaannya.

IV.             HASIL
Tabel 1. Macam-macam teknik isolasi
No.
Metode Isolasi
Gambar Pengamatan
1
Streak Plate
Bacillus subtilis
Escheria coli
2
Pour Plate
Bacillus subtilis
Escheria coli
3
Surface Plate


Escheria coli

V.                PEMBAHASAN
Ketiga metode ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Misal untuk streak plate, metode ini dalam pelaksanaannya cukup sulit untuk dilakukan. Karena kita harus hati-hati dalam menggoreskan ose ke medium. Jika pada saat penggoresan, medium terluka akan mengacaukan data, kerena hasil isolasi sudah tidak akurat lagi, diragukan kevalidannya. Hasilnya diragukan karena, luka pada medium yang permukaan lebih rendah dari permukaan seharusnya dapat ditumbuhi mikrobia. Dan mikrobia tersebut dengan keberadaanya yang di bawah permukaan seharusnya, akan manimbulkan asumsi bahwa mikrobia tersebut juga bersifat mikroaerofilik. Padahal seharusnya sifat mikrobia tersebut adalah aerob.
Tetapi selain kekurangan tersebut, metode ini memiliki kelebihan yaitu koloni yang dihasilkan adalah single koloni atau 1 koloni hanya dari 1 spesies saja. Selain itu kontaminan mudah dibedakan. Karena pada metode ini ose digoreskan dengan pola tertentu, maka koloni yang tumbuh diluar pola tersebut dapat dinyatakan sebagai kontaminan.
Metode pour plate, metode ini dilakukan dengan mengencerkan koloni bakteri lalu dituangkan kedalam cawan petri baru dtuangkan pula medium agar yang masih cair. Teknik ini akan menyebabkan mudah timbulnya spreader yaitu koloni yang berbeda saling menumpuk. Hal ini bisa dihindari dengan membuat koloni tersebut lebih encer lagi, sehingga pada saat dituang koloni yang ada hanya sedikit dan kemungkinan ada spreadpun dapat dikurangi. Kekurangan yang lain dari metode ini adalah kontaminan sulit dibedakan karena semuanya dituang secara homogeny. Hal ini dapat dihindari dengan selalu bekerja dengan teknik aseptis. Kelebihan dari metode pour plate adalah tekniknya mudah dilakukan. Dan, karena sampel dikocok homogen maka bakteri aerob maupun anaerob dimungkinkan dapat hidup.
Metode surface plate, tentu saja metode ini dapat dilakukan untuk memisahkan mikrobia aerob dengan mikrobia yang lain. Karena jika dituangkan pada permukaan medium, bakteri yang paling diuntungkan adalah bakteri aerob. Tetapi metode ini memiliki kekurangan yaitu kontaminan sulit dibedakan, karena sampel diratakan pada seluruh permukaan.
VI.             KESIMPULAN
Ada beberapa metode untuk mengisolasi bakteri diantaranya metode streak plate, surface plate dan pour plate. Metode streak plate tekniknya sulit dilakukan namun kontaminan mudah dibedakan. Metode surface plate dapat digunakan untuk memisahkan mikrobia aerob dengan yang lain, tetapi kontaminan sudah dibedakan. Metode pour plate, mudah dilakukan dan dapat ditumbuhi mikrobia aerob maupun anaerob tetapi kontaminan sulit dibedakan.
VII.          DAFTAR PUSTAKA
Barazandeh, N. 2008. Microbiology Titles. Jerman. Springer-Verlag Berlin Heidelberg Media , pp 9-11
Pelczar, M.J.Jr, and E. Chan.1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit UI Press. Jakarta. p:23-24.
Prescott, L. M, J. P. Harley, dan D. A. Klein. 2008. Microbiology. 7th Ed. McGraw-Hill Book Company Inc. USA, p: 113-116
Seiler, J. P. 2000. Good Laboratory Practice. Swiss. Springer-Verlag Berlin Heidelberg Media , p 61.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang, p: 61-67.

1 komentar: